Jumat, 30 September 2016

PERCEPATAN ODF UPTD PUSKESMAS TIUDAN KECAMATAN GONDANG



SEMARAK PERJALANAN ODF 
DI UPTD PUSKESMAS TIUDAN KECAMATAN GONDANG



       Pergerakan Percepatan ODF di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tiudan, Kecamatan Gondang, berjalan pelan namun pasti. Keterlambatan bukan sebuah rintangan, semua upaya positif terus digulirkan dalam rangka mengejar ketertinggalan. Berbekal Methodologi Partisipatory Assasment dan dengan dukungan unsur masyarakat, lintas upaya dan lintas terkait termasuk lini swasta, kegiatan-kegiatan penunjang Pergerakan Percepatan ODF dupayakan dilaksanakan secara optimal menuju UPTD Puskesmas Tiudan ODF.

Kegiatan STBM  ( Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ) pilar pertama Stop Buang Air Besar Sembarangan ( Stop BAB-S ) atau yang lebih dikenal dengan Kegiatan Pemicuan ODF ( Open Defecation Free—Bebas Buang Air Besar Sembarangan ) adalah salah satu kegiatan prioritas  di UPTD Puskesmas Tiudan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung. Dalam perjalanannya, kegiatan STBM yang pada awalnya masih seumur jagung, berkat komitmen bersama Kepala UPTD Puskesmas Tiudan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung beserta seluruh staf di jajaran unit layanan akhirnya semakin dikenal oleh lintas upaya dan masyarakat.
             Pada bulan Maret 2013 UPTD PUskesmas Tiudan Kecamatan Gondang mengawali keseluruhan rangkaian kegiatan dengan Kegiatan Pembekalan Fasilitator Tingkat Puskesmas. Materi pembekalan meliputi sosialisasi ulang STBM dan Teknik Fasilitori. Pemateri adalah Sanitarian UPTD Puskesmas Tiudan Kecamatan Gondang. Dalam Kegiatan Pembekalan Fasilitator tersebut Sanitarian memberi gambaran secara umum apa itu STBM, bagaimana menjadi fasilitator yang bertugas memfasilitasi, bagaimana praktek fasilitasi di lapangan yang secara konsep sangat berbeda dengan kegiatan Sosialisasi dan Penyuluhan. Tim Fasilitator juga diberikan bekal seputar pengaplikasian teknik promosi dalam rangkaian proses Kegiatan Pemicuan. 
Pada puncaknya, di bulan April 2013 secara perdana UPTD Puskesmas Tiudan melakukan aksi Pemicuan ODF di Desa Bendungan Kecamatan Gondang, sekaligus sebagai penanda bahwa Program STBM Pilar ( 1 ) Stop BAB-S di UPTD Puskesmas Tiudan Kecamatan Gondang telah dicanangkan. Dan berikutnya, Kegiatan Pemicuan ODF merambah Desa Wonokromo, Desa Blendis dan yang terakhir di Tahun 2013, Kegiatan Pemicuan ODF masuk ke Desa Tiudan. Rata-rata Kegiatan Pemicuan ODF dihadiri oleh warga Komunitas Dusun yang jumlahnya berkisar 35 ( tiga puluh lima ) orang warga dengan berbagai latar belakang sosial, budaya dan ekonomi.
Tim Fasilitator yang terdiri dari Sanitarian dan  Tenaga lain yang ditunjuk membentuk sebuah Forum Peduli Lingkungan Wilayah Kecamatan Gondang.
Meski terbilang Puskesmas yang terlambat melakukan gerakan Pemicuan ODF, Tim Fasilitator tidak pernah merasa ciut. Keterlambatan bukanlah sebuah halangan, dan ketertinggalan adalah media untuk memacu langkah agar segera dapat berdiri sejajar dengan Puskesmas-Puskesmas lain yang ada di wilayah Kabupaten Tulungagung.
 Berpijak pada sebuah kalimat yang menyatakan bahwa “ Untuk merubah perilaku yang sudah membudaya menjadi suatu kebiasaan diperlukan sebuah proses, dan dalam menjalankan sebuah proses dibutuhkan waktu dalam batas yang tak terukur “, Tim Fasilitator bersama lintas program dan lintas sector terus bergerak melakukan berbagai upaya guna mendongkrak Program.
Pada akhirnya, masih di tahun 2013, Tim Fasilitator bentukan UPTD Puskesmas Tiudan yang melakukan Kegiatan Monev ( Monitoring dan Evaluasi ) Pasca Pemicuan memperoleh informasi bahwa di Komunitas Dusun Krajan Desa Bendungan Kecamatan Gondang ada 4 ( empat ) warga komunitas yang sudah melakukan pembangunan jamban sehat keluarga.
               Mereka adalah Sumini, Supriyono, Kamaludin dan Supiyem, yang mengaku tergerak untuk  mewujudkan impian memiliki jamban setelah menimbang-nimbang bahwa jika tetap Buang Air Besar di sungai, meski murah, tetapi keamanan dan keselamatan tidak terjamin. Apalagi sudah ada kejadian salah seorang warga hanyut di sungai pada saat BAB ( Buang Air Besar ) dan meninggal. Selain itu yang menjadikan mereka terpicu untuk membangun jamban adalah  faktor usia. Menurut mereka,  usia yang sudah tidak muda lagi menyebabkan berbagai permasalahan seperti menurunnya kekuatan fisik, penglihatan dan pendengaran serta gangguan-gangguan kesehatan lain yang menyebabkan mereka menjadi sangat beresiko jika harus berjalan ke sungai. Perasaan takut terpeleset atau jatuh, dan yang lebih fatal lagi adalah hanyut terbawa arus sungai, merupakan faktor pemicu bagi warga untuk segera melakukan perubahan besar dengan merubah kebiasaan membuang tinja di tempat terbuka menjadi kebiasaan membuang tinja pada tempatnya, yaitu jamban sehat keluarga. Menyusul, salah seorang warga Dusun Kleben Desa Tiudan Kecamatan Gondang membangun sarana jamban sehat keluarga yang memenuhi kriteria kesehatan.
Warga bernama Ulimiati tersebut merasa tergerak untuk melakukan pembangunan sarana jamban sehat karena merasa perlu untuk memiliki fasilitas Buang Air Besar yang lebih bersih dan sehat.
Perkembangan hingga tahun 2016 ini, warga komunitas Desa lebih banyak lagi yang tergerak untuk mengikuti jejak keempat warga komunitas Desa lain untuk mewujudkan kepemilikan jamban sehat keluarga. Puncak perjalanan Program Kegiatan STBM di UPTD Puskesmas Tiudan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung adalah dideklarasikannya 3 (tiga ) Desa yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tiudan sebagai Desa ODF, Desa yang bebas dari aktifitas atau perilaku membuang tinja di sembarang tempat. Keempat desa tersebut adalah Mojoarum, Notorejo dan Wonokromo.

Apa itu STBM ?
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM ) adalah pendekatan merubah perilaku hygiene dan sanitasi  melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan.
STBM terdiri dari 5 (lima) pilar antara lain Stop Buang Air Besar Sembarangan, Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), Pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, Pengelolaan sampah rumah tangga serta Pengelolaan limbah cair rumah tangga.
Program Nasional STBM dikhususkan untuk skala rumah tangga, sehingga program STBM ini adalah program yang berbasis masyarakat dan meniadakan subsidi dalam bentuk apapun.
Karenanya, Prinsip STBM yang meniadakan subsidi untuk penyediaan fasilitas sanitasi dasar diarahkan pada upaya penggalian potensi masyarakat untuk membangun sarana sanitasi dasar dan pengembangan solidaritas social atau gotong royong, agar kondisi sanitasi total segera tercapai.
              Seperti yang terjadi di Desa Bendungan Kecamatan Gondang, salah seorang warga komunitas membangun sarana jamban sehat keluarga dengan dibantu salah seorang  warga lain. Meski bantuan yang diberikan sifatnya hanya stimulant, namun itu sudah menandakan bahwa system gotong royong sudah mulai menyentuh program STBM di Desa tersebut.

Fasilitasi STBM
Kegiatan Pemicuan berbeda dengan kegiatan Sosialisasi atau Penyuluhan. Jika dalam sebuah aktifitas Sosialisasi atau Penyuluhan pemateri menyampaikan materi yang akan disosialisaikan dan pematerilah yang lebih mendominasi acara sosialisasi atau penyuluhan, maka dalam kegiatan Pemicuan adalah sebaliknya. Fasilitator hanya sebatas memfasilitasi, selebihnya wargalah yang harus berpartisipati secara aktif didalam upaya penggalian permasalahan yang mereka hadapi hingga pembahasan pencarian jalan keluar dan mengambil keputusan alternatif pemecahan masalah seperti apa yang akan mereka ambil. Mereka digiring untuk memetakan sendiri wilayah komunitas mereka. Di mana saja titik lokasi yang biasa digunakan warga untuk buang hajat, di mana saja titik-titik lokasi yang sudah ada jamban sehat dan di mana titik-titik lokasi adanya jamban yang belum memenuhi syarat dan di mana saja titik-titik lokasi warga komunitas melakukan sharing (menumpang) di warga lain yang sudah memiliki jamban sehat keluarga.
Yang menjadi kunci dalam kegiatan Pemicuan ini adalah sanitasi total, berbasis masyarakat, skala rumah tangga, metode pemicuan dan monitoring partisipatif. Jadi peran fasilitator bukan sebagai pemateri. Wargalah yang diharapkan bisa menjadi pemeran utama, baik dalam acara kegiatan Pemicuan maupun kegiatan-kegiatan penggerakan lain di lapangan.
Pembentukan Komite di acara Pemicuan adalah salah satu prosedur dalam proses kegiatan, yang pada nantinya Komite yang terbentuk bisa menjadi motifator di dalam mewujudkan kepemilikan jamban sehat bagi warga. Berkaitan dengan fasilitasi, yang bisa diberikan oleh fasilitator adalah fasilitasi contoh jamban sehat, contoh alternatif pemecahan masalah seperti bentuk-bentuk upaya pembentukan arisan jamban, gotong royong atau social dan fasilitasi paket jamban murah dan sehat. Yang ditawarkan adalah paket jamban sehat ramah lingkungan dengan harga yang terjangkau, dengan berbagai pilihan tipe. Kontruksi yang ramah lingkungan tentu akan membantu menekan factor resiko pencemaran terhadap lingkungan, harga yang relative murah dan system cetak di tempat akan memberikan sebuah kemudahan, keamanan dan kenyamanan. Dari segi keawetan, kontruksi bak pengolah tinja dan sumur resapan model silindris tanpa sampungan pastinya akan menjajikan produk jamban sehat STBM lebih awet dengan pemakaian jangka panjang.
              Sudah ada warga Desa Bendungan Kecamatan Gondang yang memesan paket jamban sehat STBM. Tentunya sebuah apresiasi yang patut diberi acungan jempol, di mana sebagian warga meski masih dalam skala kecil sudah tergerak untuk segera mewujudkan kepemilikan jamban sehat keluarga. Pilihan cara pemenuhan kebutuhan sarana jamban sehat keluarga adalah mutlak ada di tangan warga, sekali lagi posisi fasilitator hanyalah sebatas memfasilitasi. Pemberian Spanduk STBM gratis oleh UPTD Puskesmas Tiudan Kecamatan Gondang adalah semata sebagai bentuk apresiasi Puskesmas untuk Desa yang telah memulai untuk merangkak menuju Desa Bebas Buang Air Besar Sembarangan.

Bagaimana menyikapi sebagian komunitas yang masih jalan di tempat?
Sebuah kalimat klasik “ Kegiatan merubah perilaku atau kebiasaan yang sudah membudaya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan ” memberi asupan yang membalurkan sebuah mindset bahwa pada hakekatnya sebuah proses itu akan diikuti oleh berbagai tantangan, kendala atau hambatan. Aktifitas merubah perilaku atau kebiasaan yang sudah membudaya yang memerlukan waktu dalam batas yang tak terukur tentunya akan menjadi sebuah tantangan bagi semua pihak.
Yang perlu didongkrak adalah tingkat pemahaman dan tingkat kesadaran, sehingga dengan terbukanya pola pikir warga untuk mau merubah perilaku hidup bersih dan sehat serta tidak ada lagi warga yang bergantung pada bantuan pemerintah, murni dengan kesadarannya bahwa jamban sehat adalah kebutuhan dasar mereka, yang jika tidak dipenuhi maka akan mengakibatkan bahaya yang lebih besar lagi. Warga harus memiliki kesadaran yang sempurna, sebuah istilah yang dicetuskan oleh Sanitarian UPTD Puskesmas Tiudan Kecamatan Gondang, yaitu sebuah kondisi pikiran yang sudah terolah secara benar, yang menyadari bahwa jamban sehat adalah kebutuhan dasar yang mutlak harus diperjuangkan keberadaannya tidak mengalahkan kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. Sebuah kondisi pikiran di mana warga sudah menyadari bahwa perilaku adalah permasalahan yang kelak akan menjadi bumerang jika tidak segera dirubah, untuk itu harus segera dilakukan langkah nyata yang tidak sebatas angan atau niat, akan tetapi sudah terkolaborasi menjadi sebuah tindakan nyata dengan terwujudnya jamban sehat keluarga yang dibangun secara mandiri tanpa bantuan dari pemerintah.
Kesadaran yang sempurna akan membawa warga pada sebuah kondisi Sanitasi Total, yaitu sebuah kondisi di mana warga sudah tidak ada yang melakukan praktek Buang Air Besar Sembarangan, warga sudah melakukan praktek mencuci tangan pakai sabun, warga sudah mengelola air minum dan makanan yang aman, warga telah mengelola sampah dengan benar, dan warga sudah mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman. Maka menciptakan kesadaran yang sempurna bagi warga adalah sebuah tantangan besar, kendala atau hambatan yang ada harus disikapi dengan bijak, mengingat mindset warga sudah sekian lamanya terbentuk dalam pola yang salah.
Menghentikan harapan warga untuk mendapatkan jamban bantuan tentunya akan memakan waktu, namun bukan berarti tidak mungkin dihentikan harapan-harapan mereka yang kurang benar. 
Hingga pada akhirnya, UPTD Puskesmas Tiudan memiliki Desa Binaan Percepatan ODF melalui Upaya Kredit Jamban. Desa Blendis Kecamatan Gondang dan Desa Bendungan Kecamatan Gondang adalah 2 ( dua ) Desa yang warganya bergerak mandiri membangun sarana jamban sehat keluarga melalui fasilitasi Kredit Jamban oleh Bank Pembangunan Daerah Tulungagung yang bekerja sama dengan Wira Usaha Sanitasi " SANITA GRUP", sebuah wira usaha bidang sanitasi yang merupakan bagian dari jejaring Percepatan ODF di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tiudan.
Upaya-upaya pendukung pergerakan Percepatan ODF di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tiudan terus digulirkan, seperti Kegiatan Pleno Pasca Pemicuan. Konsep Kegiatan Pleno Pasca Pemicuan ini adalah mengumpulkan perwakilan Komite dari
8 ( delapan ) Desa yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tiudan dengan pendampingan Kader Kesehatan, Stakeholder wilayah dan Tim Fasilitator gabungan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung dan UPTD Puskesmas Tiudan. Dalam ajang Pleno tersebut setiap Komite mempresentasikan situasi sanitasi yang ada di wilayahnya dan bagaimana komunitas yang masih OD ( berperilaku BAB di sembarang tempat ) melakukan pergerakan merubah perilaku.  
Sebagai improvisasi, dalam kegiatan Pleno Pasca Pemicuan tersebut UPTD Puskesmas Tiudan melakukan pemilihan KOMITE FAVORIT dengan berbagai kategori. Semua langkah yang diambil serta dukungan kebijakan dan strategi yang tepat bermanfaat diharapkan dapat memberi kontribusi di dalam upaya Percepatan ODF di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tiudan. termasuk inovasi Pembentukan Desa Binaan Sanitasi, Pembentukan Kelompok Masyarakat Sanitasi, Pembentukan Jejaring Sanitasi dan Penggerakan Kemitraan Swasta.
Semoga rangkaian kegiatan pendukung pelaksanaan Program Percepatan ODF yang meliputi Pertemuan Pendampingan Penyusunan Rencana Percepatan ODF, Pemicuan ODF, Pleno Pasca Pemicuan ODF, Monev Pasca Pemicuan ODF dan Verifikasi ODF dapat terus berkolaborasi dengan improvisasi dan inovasi yang dilahirkan guna mewujudkan UPTD Puskesmas Tiudan Lebih Bersih dan Lebih sehat.

*Bravo Puskesmas Tiudan


Selasa, 06 September 2016

KIA GEMES DI GERDU CANDA



PROGRAM INOVASI ANC TERPADU UPTD PUSKESMAS TIUDAN

KABUPATEN TULUNGAGUNG


UPTD Puskesmas Tiudan terus berupaya mengembangkan sayapnya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanannya. Setelah inovasi WARUNG SANITASI sebagai implementasi Klinik Sanitasi Puskesmas dan inovasi POSYANDU ODONG-ODONG, UPTD Puskesmas Tiudan kembali mencoba melahirkan inovasi unggulan lainnya yang bertajuk PROGRAM INOVASI ANC TERPADU. Berangkat dari pemikiran bahwa dalam rangka mencetak generasi unggul, selain materi, kecukupan gizi, lingkungan dan sanitasi yang layak, untuk mencetak generasi yang hebat juga perlu penyiapan sejak dini  yaitu sedari calon bayi berada di dalam kandungan.

Unit Layanan KIA ( Kesehatan Ibu dan Anak ) UPTD Puskesmas Tiudan berkomitmen penuh di dalam upaya mendukung tujuan, visi serta misi Puskesmas sebagai pelaksana pembangunan berwawasan kesehatan dengan selalu memberikan pelayanan terbaiknya terhadap ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita dan anak usia sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut, Program kerja KIA selalu berupaya untuk mengutamakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya prioritas seperti kegiatan ANC Terpadu dan kegiatan-kegitaan lain yang mendukung upaya peningkatan mutu layanan di Unit KIA.
              Dalam rangka mengoptimalkan kegiatan ANC Terpadu, UPTD Puskesmas Tiudan berkreasi dengan melahirkan inovasi KIA GEMES DI GERDU CANDA. Upaya mengoptimalkan kegiatan ANC Terpadu merupakan skala prioritas di lini layanan KIA, mengingat AKI ( Angka Kematian Ibu ) dan AKB ( Angka Kematian Bayi ) di UPTD Puskesmas Tiudan yang cukup tinggi. Melalui minilokakarya Puskesmas, UPTD Puskesmas Tiudan terus melakukan upaya penggalian kendala serta permasalahan terkait tingginya AKI dan AKB tersebut. Rendahnya kunjungan ibu hamil di Unit layanan KIA serta belum berjalannya rujukan ibu hamil dari Posyandu, Polindes dan Pustu ke Puskesmas Induk untuk melakukan pemeriksaan komprehensif merupakan salah satu hambatan, sehingga harus dicarikan jalan keluar. Dalam minilokakarya Puskesmas, selain menginventarisasi permasalahan, juga dilakukan penggalian potensi guna mencari jalan keluar atas permasalahan yang ada. Dan sebagai langkah awal terkait upaya menurunkan AKI dan AKB adalah melakukan pendataan ulang ibu hamil yang ada di wilayah kerja, melakukan kegiatan Kelas Ibu, kemudian menginformasikan bahwa UPTD Puskesmas Tiudan memiliki nomor layanan yang bisa difungsikan sebagai media komunikasi bagi ibu hamil yang terdaftar di Pelayanan Unit KIA. Tertampungnya para ibu hamil dalam Grup Whatsapp ( WA ) yang bertajuk 'GERDU CANDA' merupakan salah satu upaya mengguyuprukunkan ibu hamil di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tiudan, disamping tujuan utama sebagai wahana konseling terkait penyehatan Ibu Hamil dan Calon Bayi. Gerdu Canda merupakan kependekan dari Gerakan Terpadu Cinta Anak dan Bunda. Dan dalam rangka mengoptimalkan Program Inovasi ANC Terpadu berupa Grup WA Gerdu Canda, UPTD Puskesmas Tiudan menyiapkan Ambulan GeMes SIAGA, yang disiapkan 24 jam untuk pelayanan kegawatdaruratan ibu hamil dan persalinan. Gemes Siaga merupakan kependekan dari Gerakan Meraih Sehat Sayang Ibu dan Keluarga. Ambulan Gemes Siaga memberikan layanan transportasi gratis yang berfungsi untuk melayani rujukan ibu hamil dari Desa ke Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan ANC Terpadu dan Komprehensif serta rujukan ibu hamil dan ibu bersalin. Dengan lahirnya KIA Gemes di Gerdu Canda, UPTD Puskesmas Tiudan dapat meminimalisir 3 T ( tiga Terlambat ) sehingga dapat  menurunkan AKI dan AKB. Karena 3 T yang meliputi Terlambat mengenali tanda bahaya, Terlambat mengambil keputusan, Terlambat menuju fasilitas kesehatan, merupakan factor penyebab lain terjadinya peningkatan AKI dan AKB yang harus diminimalisir demi kehamilan yang sehat dan lahirnya calon penerus bangsa yang cerdas dan hebat.
Lebih lanjut, konsep dan teknis program inovasi Gerdu Canda dan Ambulan Gemes Siaga adalah mengoptimalkan jejaring layanan ANC Terpadu yang meliputi Dokter Umum, Dokter Gigi, Bidan, Perawat, Petugas Gizi dan Laborat. Jajaran Nakes di UPTD Puskesmas Tiudan adalah admin Grup WA Gerdu Canda, sehingga akan memudahkan penjaringan Ibu Hamil di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tiudan. Pendekatan strategis terus diupayakan, sehingga inisiatif untuk melahirkan Program Inovatif KIA Gemes di Gerdu Canda dapat diapresiasi oleh stakeholder wilayah dan masyarakat, mengingat pelayanan KIA Gemes di Gerdu Canda ini memiliki system pelayanan ANC Terpadu komprehensif yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dengan mengembangkan kegiatan KIE  ( Komunikasi, Informasi dan Edukasi ) bagi ibu hamil secara sederhana, praktis, mudah dan cepat, diharapkan informasi dan permasalahan seputar kehamilan dan persalinan dapat teratasi dengan cepat. Data seluruh ibu hamil di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tiudan pun dapat ditayangkan dalam kondisi up to date. Keadaan tersebut diharapkan akan menjamin mutu layanan ANC Terpadu dan persalinan yang aman serta dapat menjadi indikator keberhasilan pelaksanaan program pemerintah daerah bidang KIA dan dapat meningkatkan kunjungan di unit layanan KIA. Dan pada akhirnya dapat bermanfaat di dalam mempermudah KIE bagi ibu hamil tanpa terkendala kesulitan transportasi sehingga ibu hamil dapat dengan mudah melakukan konseling dan mendapatkan informasi seputar kehamilan dari rumah. Dalam perkembangannya, Gerdu Canda tidak hanya mengupas informasi terkait ibu hamil dan persalinan, akan tetapi pembahasannya meluas menyangkut permasalahan ibu bersalin, ibu nifas dan tumbuh kembang bayi serta balita.

Sedangkan untuk mengoptimalisasi Program Inovatif KIA Gemes di Gerdu Canda, dilakukan upaya pemantauan kemajuan dan evaluasi melalui penjaringan pengaduan masyarakat melalui telepon, sms, whatsapp, surat elektronik ( email, facebook, blog), kotak saran, atau pengaduan langsung kepada petugas  dan melalui media masa. Morning report, rapat koordinasi lintas sektor, minilokakarya dan monitoring peralatan juga dilakukan guna  menghadapi berbagai kendala, sehingga Program Inovasi KIA Gemes di Gerdu Canda dapat dengan mudah diakses oleh seluruh ibu hamil yanga ada di wilayah UPTD Puskesmas Tiudan. Dengan KIA Gemes di Gerdu Canda, UPTD Puskesmas Tiudan selalu berusaha untuk selalu selangkah lebih maju. Kehamilan sehat, Ibu dan Bayi selamat.
Semoga dengan video kreatif iklan layanan masyarakat terkait Pelayanan ANC Terpadu KIA Gemes di Gerdu Canda dapat mensosialisaikan serta mempromosikan adanya layanan konseling ibu hamil melalui media elektronik, serta dengan adanya video spot terkait Pelayanan ANC Terpadu Ibu hamil dapat memberikan informasi yang bersifat edukatif bagi masyarakat.

Bravo Puskesmas Tiudan**